KISAH HEROIK: Pejuang DALAM KEMERDEKAAN INDONESIA

Sebuah kisah sejarah, tidak hanya dimiliki oleh deretan bangunan yang ada di Bandung saja, akan tetapi juga oleh para pejuangnya yang dengan gagah berani berjuang untuk kemerdekaan Republik Indonesia dan kotanya.

Salah satu kisah yang bisa dijadikan Inspirasi adalah tentang salah seorang wanita mata-mata yang sekarang menjadi Veteran Asal Jabar.

Wanita lanjut usia ini bernama Siti Fatimah (85) merupakan salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia yang patut dibanggakan. Ia lahir di Kuningan dan menjadi salah satu peserta yang turut hadir pada acara perayaan hari jadi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVI) ke-60 di taman budaya Monumen Perjuangan Rakyat (Monju) Jalan Dipati Ukur, https://www.bandungadvertiser.com/ Kota Bandung, pada hari selasa (10/01) lalu.

Sehari-harinya Ia tinggal di Jalan Rakata Nomor 79 RT 01/01, Kelurahan Merdeka, Kecamatan taman budaya Sumur Bandung, Kota Bandung. Tubuhnya masih terlihat prima di usia senja nya ini, sebab Ia masih mampu untuk tegak berdiri pada perayaan yang dilaksanakan kali ini.

Tidak hanya sehat secara fisik, Siti pun masih sehat secara ingatannya sebab Ia masih hafal betul perjuangan yang Ia lakukan guna mempertahankan kemerdekaan http://www.bisnisumkmonline.com/  Republik Indonesia dari cengkraman tentara Belanda yang ingin kembali menjajah sewaktu dulu. Wanita yang dianugerahi dengan 10 orang ini dulu memperjuangkan kemerdekaan di wilayah Kuningan.

Kendati Ia seorang wanita, akan tetapi perjuangan beda dengan wanita umumnya yang biasa menjadi tenaga medis saat peperangan berlangsung. Lahir dari pasangan Almarhum Ahmad Bagja dengan Uni Mulyani ini dulu bertugas sebagai spionase, atau sekarang dikenal dengan istilah mata-mata dari tentara gerilya pada tahun 1947 silam. Ia mengemban tugas tersebut saat usianya masih menginjak belasan, dengan gagah berani Ia pun memata-matai tentara gerilya yang berada di perbatasan Kabupaten Kuningan, tepatnya di Kecamatan Ciwaru.

Seperti dilansir dari Tribun, Ia mengatakan bahwasanya dulu saat bertugas usianya baru menginjak umur 15 tahun,

Mengembang tugas yang berat, wanita yang berasal dari Ciwaru, Desa Lebakherang, Kecamatan Ciwaru itu tanpa adanya pelatihan dan juga persiapan, Ia langsung mendapat peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan. Ia mengatakan waktu dulu langsung praktik, tanpa adanya pelatihan segala macam.

Tidak hanya memiliki tugas sebagai pemantau pergerakan tentara belanda saja, Ia pun haus pula membawa pesan dari tentara gerilya ke para pejuang yang berada di pusat pemerintahan yang tepatnya di daerah kabupaten Kuningan sewaktu dulu.

Ia mengungkapkan dulu harus pulang dan pergi dari Kecamatan Ciwaru ke pusat kota, kadang juga ia membekali diri dengan perbekalan dan juga alat medis.

Memiliki tugas yang diemban sebagai seorang mata-mata harus ia jalani dengan penuh risiko, sebab beberapa pejuang yang juga bertugas sepertinya harus menjemput maut saat tentara menangkapnya. Ia pun masih hafal kejadian yang menimpa dua rekannya sesama pra pejuang kemerdekaan yakni Hudaya dan Jumat, yang tewas di tangan tentara Belanda melalui senjata yang dimilikinya.

Menurut penuturannya, kedua kawannya tersebut ketahuan sebagai pejuang saat dilakukan razia yang biasa diprakarsai oleh pasukan patroli. Meski kedua kawannya berhasil kabur, akan tetapi nyawa mereka tidak sempat terselamatkan.

Beruntung bagi Siti, sebab saat dulu Ia mengemban tugas sebagai seorang mata-mata atau spionase perannya tak pernah terendus oleh musuh. Sebab tentara Belanda pun, tidak menaruh curiga pada siti yang masih belia pada saat itu. Ia pun menceritakan cara tersendiri yang dimiliki agar terhindar dari patroli belanda kala itu.

baca juga Menikmati Wisata Militer di Angkasa Air Softgun Area

Apabila Ia sedang diberi tugas untuk mengantarkan pesan, Ia selalu menyimpan pesan itu di bawah sepatu yang Ia kenakan. Untuk waktu pemberangkatan pun, Ia beriringan dengan para pedagang sayur. Jadi, bilamana ada patroli, Ia pun selalu dibela oleh pedagang sayur. Karena para pedagang itu akan mengakuinya sebagai anak, sehingga para tentara patroli Belanda yang sedang pun tidak akan menaruh curiga padanya.

Kendati Ia memiliki cara tersendiri itu, Ia pun menceritakan bahwasanya nyawa yang dimilikinya masih dalam bahaya, atau keadaan belum tentu aman selama Ia melakukan perjalanan. Karena Ia masih harus menjaga diri dari serbuan kontak senjata yang dilakukan antara tentara gerilya dan juga tentara Belanda. Malahan, Ia harus melarikan diri kala tentara Belanda menghujankan peluru meriam di Kecamatan Ciwaru tempat Ia tinggal dulu.

Ia pun menuturkan bahwa dulu perasaannya senang-senang saja melakukan semua itu, jadi ketakutan pun dapat Ia hindarkan. Ia mengaku pekerjaannya menjadi seorang mata-mata sudah digeluti hampir satu tahun lebih.

Ia memilih profesi tersebut, sebab hatinya memiliki keinginan yang kuat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada waktu itu. Kedua orang tua nya pun merelakan hidup yang dijalani Siti bilamana ada sesuatu yang tidak mereka ingin terjadi menimpa anak wanitanya ini.

Ia mengatakan kepada Tribun bahwa Nyawanya sudah direlakan oleh kedua orang tuanya.

Hari ini, Siti pun menjadi seorang Veteran yang mendapatkan penghargaan berupa bintang gerilya. Ia pun menjadi salah satu veteran yang turut andil dalam membela kemerdekaan yang diperjuangkan oleh Bangsa Indonesia.